Senin, 14 Januari 2013

Perbandingan prilaku merokok Siswa SMP dan Tukang Bentor


PERILAKU MEROKOK


Disusun oleh Kelompok 3 Kelas L_2 :
1.    Baitur Rahman Merja         (141 2011 0334)
2.    Muh. Asfar Sadik               (141 2011 0285)
3.    Andi Ilham                          (141 2011 0200)
4.    Arya Linggar E.                  (141 2011 0290)


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2012



BAB I
PEDAHULUAN

Manusia memiliki berbagai macam kebiasaan. Mulai dari berolahraga, membaca, menulis, mengarang,dan sebagainya.Di antara sekian banyak kebiasaan manusia, ada salah satu kebiasaan manusia yang sangat merugikan bagi kesehatan mereka.Anehnya, kebiasaan yang tidak baik ini sering dilakukan oleh masyarakat kita, yakni kebiasaan merokok. Merokok sendiri bukanlah hal yang dianggap tabu oleh masyarakat kita,meskipun yang melakukannya adalah anak yang masih duduk di bangku sekolah.Hal ini sangat memprihatinkan, karena sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam rokok terdapat banyak zat beracun yang nantinya akan mengganggu kesehatan tubuh kita.
Untuk itu dengan dibuatnya makalah ini diharapkan warga masyarakat dapat sadar dan segera meninggalkan atau mengurangi kebiasaan mereka yang tidak baik.Karena bagaimanapun juga dampak rokok bagi kesehatan pelaku (perokok aktif) maupun kesehatan orang yang terkena paparan asap rokok perokok aktif (perokok pasif) sangat besar,karena zat beracun yang terkandung di dalamnya.


 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengetahuan Tentang Rokok
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap beberapa siswa SMP dan salah seorang Tukang Bentor, maka kami memperoleh informasi bahwa Tukang bentor mengetahui rokok pertama kali dari temannya sejak duduk di bangku SD. Sedangkan siswa SMP memperoleh pengetahuan tentang merokok dari bapaknya sendiri. Menurutnya, bapaknya sendiri yang mengajarinya tentang rokok. Ini membuktikan faktor yang menyebabkan seseorang merokok termasuk teman dan keluarga.
Hal ini sesuai dengan pendapat Leventhal (Smet, 1994) yang menyatakan bahwa merokok tahap awal itu dilakukan dengan teman-teman (64%), seorang anggota keluarga bukan orangtua (23%), tetapi secara mengejutkan bagian besar juga dengan orang tua(14%). Hal ini mendukung hasil penelitian Komalasari dan Helmi (2000) yang mengatakan bahwa ada tiga faktor penyebab perilaku merokok pada remaja yaitu kepuasan psikologis, sikap permisif orangtua terhadap perilaku merokok remaja dan pengaruh teman sebaya.
Menurut Oskamp (Smet, 1994) seseorang mulai merokok terjadi akibat pengaruh lingkungan sosial : teman-teman, kawan sebaya,orang tua, saudara-saudara dan media. Sedangkan menurut smet (1994) menyatakan bahwa seseorang merokok karena faktor-faktor sosio cultural seperti kebiasaan budaya, kelas sosial, gengsi dan tingkat pendidikan.
Banyak faktor merokok yang mendorong seseorang mengkonsumsinya, diantaranya karena faktor lingkungan, kepribadian, ekonomis, dan tekanan sosial.

Faktor lingkungan.
Banyak remaja mulai mengenal dan kemudian menjadi perokok pemula karena berawal dari rumah. Kebiasaan orang tua merokok ternyata memberi dampak bagi perilaku remaja untuk mencoba rokok. Dalam Journal of Consumer Affairs disebutkan bahwa orang tua perokok akan berpengaruh dalam mendorong anak mereka untuk menjadi perokok pemula di usia remaja. Diperkirakan faktor merokok ini akan meningkatkan kemungkinan merokok 1,5 kali pada anak lelaki dan 3,3 kali lebih besar pada anak perempuan.
Secara psikologis, toleransi orang tua terhadap asap rokok di rumah akan membentuk nilai bagi anak bahwa merokok adalah hal yang boleh-boleh saja dilakukan, dan mereka juga merasa bebas untuk merokok karena tidak ada sangsi moral yang diberikan oleh orang tua. Pada tahap selanjutnya, banyak penelitian membuktikan bahwa perokok pemula di usia remaja lebih dari setengahnya akan menjadi perokok berat saat mereka berusia 30-40 tahun kelak. Selain itu faktor lingkungan teman dan pergaulan juga memberi pengaruh besar terhadap remaja untuk menjadi perokok pemula. Banyak orang terdorong menjadi perokok pemula untuk menyesuaikan diri pada sebuah komunitas pergaulan, rokok membuat mereka merasa lebih diterima oleh banyak orang.

Faktor kepribadian.
Secara kepribadian, kondisi mental yang sedang menurun seperti stres, gelisah, takut, kecewa, dan putus asa sering mendorong orang untuk menghisap asap rokok. Mereka merasa lebih tenang dan lebih mudah melewati masa-masa sulit setelah merokok. Memang tak bisa dipungkiri bahwa ada 2 hal dari rokok yang memberi efek tenang, yaitu nikotin dan isapan rokok. Dalam dosis yang tertentu, asupan nikotin akan merangsang peroduksi dopamine (hormon penenang)di otak, maka faktor merokok ini membuat seseorang akan merasa lebih tenang setelah menghisap rokok, tetapi ini hanya sesaat dan akan berbalik menjadi efek buruk bagi kesehatan secara permanen. Ditambahkan lagi, dari sebuah literatur disebutkan bahwa gerakan bibir menghisap dan menghembuskan lagi asap rokok memberi efek tenang secara psikis. Dianalogikan bahwa gerakan ini seperti pada gerak refleks seseorang saat menghela nafas untuk menenangkan dirinya saat menghadapi masalah.

Faktor ekonomis dan tekanan sosial.
Harga rokok yang sangat terjangkau juga membuat banyak perokok pemula merasa ringan untuk mencicipi rokok, begitu rokok menjadi bagian hidupnya maka ia akan terus membeli rokok dan menjadi perokok berat di kemudian hari. Kemudian tekanan sosial juga membuat banyak perokok pemula memliki pandangan bahwa rokok merupakan simbol laki-laki. Media masa merupakan sarana utama yang membentuk persepsi demikian. Bagaimana tidak, iklan rokok selalu digambarkan sebagai simbol lelaki sejati yang perkasa, jantan, tampan, glamour, dan kreatif. Ini menjadi daya pikat tersendiri baik bagi perokok pemula maupun perokok berat.
Hampir semua orang tahu merokok itu menyebabkan kanker paru-paru dan perokok mungkin sering bermain-main dengan risikonya mengidap penyakit tersebut. Kecanduan bisa saja menjadi alasan orang untuk beralih dari kebiasaan merokok agar terhindar dari kanker paru-paru namun sepertinya kemungkinan untuk itu kecil.
Hasil yang mengkhawatirkan ini pun menunjukkan bahwa tingginya tingkat ketidaktahuan tentang penyakit-penyakit berbahaya akibat merokok ini bisa berakibat sangat fatal. Hal ini karena hanya ada dua cara untuk menghilangkan penyakit akibat merokok: membantu perokok untuk berhenti dan mencegah generasi muda untuk mulai merokok," ujar Profesor Robert West, pakar stop merokok dari Cancer Research UK.
Dalam hal ini kami mendapat jawaban yang berbeda. Para Siswa SMP mengaku mengetahui akibat dari merokok karena pernah merasakan keluhan seperti batuk-batuk dan sakit pada dada. Sedangkan tukang bentor mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apa bahaya dari merokok. “biasa-biasa saja” ujarnya.
Dalam hal bahan-bahan kimia yang terkandung didalam rokok, salah satu siswa SMP mengetahui adanya bahan kimia yang terkandung didalam rokok dengan menyebutkan Nikotin. Tetapi lain halnya dengan tukang bentor yang tidak mengetahui adannya bahan kimia yang terdapat didalam rokok. Menurutnya biasa-biasa saja.
Dalam hal bahaya asap rokok bagi orang lain, tukang bentor megetahui bahwa asap rokok berbahaya bagi orang lain tapi tidak bagi dirinya sendiri, tetapi para siswa SMP tidak mengetahui bahwa asap rokok berbahaya bagi orang lain. Hal ini mungkin disebabkan karena merokok sudah diajarkan sejak masih kecil dan belum mengetahui mana yang baik dan yang buruk, jadi mereka tidak mengetahui apa akibat dari asap rokok rokok bagi orang lain.
Notoatmodjo (2003) mengatakan, Dalam hal merokok, dapat di jelaskan bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup terkait rokok cenderung untuk tidak merokok, sebaliknya, seseorang yang memiliki pengetahuan kurang tentang rokok cenderung berperilaku merokok.

B. Sikap Terhadap Rokok
Seperti kita ketahui bersama bahwa merokok sangat bahaya bagi kesehatan, tapi mengapa mereka masih merokok. Menurut tukang bentor mengatakan “kalau tidak merokok kaya orang bodo-bodo”. Sedangkan menurut para siswa SMP mengatakan karena mereka sudah kecanduan, makanya mereka tetap saja merokok. Dan ada juga salah satunya yang mengatakan bahwa jika tidak merokok rasanya mau terus meludah.
Mereka masih merokok karena nikotin dalam rokok yang sangat adiktif. Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus yang jika dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa. Penyebab lain karena rokok memberikan kenyamanan psikologis bagi beberapa orang. Mungkin alasan yang paling utama karena berhenti merokok sangat sulit. 
Bagi kebanyakan orang mungkin rokok adalah suatu kebutuhan pokok. Banyak orang yang jika tidak merokok satu hari saja badan serasa pegal-pegal dan tak bertenaga. Kondisi seperti ini sudah masuk dalam kategori kecanduan. Hal ini dapat sangat berbahaya karena rokok mengandung zat-zat yang bersifat racun dan apabila zat-zat tersebut terhirup atau terkonsumsi oleh tubuh dapat menyebabkan penyakit seperti asma, angina, kanker paru-paru dan gangguan-gangguan kesehatan seperti yang tertera pada bungkus-bungkus rokok.
            Dari hasil wawancara kami tentang berhenti merokok, ternyata keduanya mempunyai jawaban yang sama. Yaitu tidak pernah mencoba (berniat) untuk berhenti dari kegiatan merokok itu. Menurut tukang bentor, dia hanya berhenti merokok ketika waktu tidur. Mungkin karena mereka enak dan tenang saat mereka merokok sehingga membuat mereka lupa untuk berhenti merokok. Dan mungkin juga karena mereka belum merasakan dampak yang lebih parah tentang akibat dari merokok.
Sebenarnya sekitar 70-80% perokok ingin berhenti merokok tetapi hanya kurang sparuh dari mereka yang akhirnya benar-benar dapat berenti merokok total sebelum usia 60 tahun. Malahan ada data yang menyebtkan bahwa walaupun sampai 40% perokok secara serius mencoba berhenti merokok, tetapi ternyata hanya 3% yang benar-benar berhenti dalam 6 bulan mendatang. Karena itu, kendati berbagai kampanye telah dilakukan, perlu terus dicari teknik berhenti merokok yang ampuh. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain niat yang kuat, melakukan beberapa teknik/berkonsultasi dengan dokter/klinik berhenti merokok, menggunakan obat-obat tertentu.
Dari hasil wawancara yang kami dapatkan, ternyata rata-rata mereka tidak ada yang setuju dengan program anti rokok. Menurut siswa SMP “kalau tidak ada rokok mati semua anak muda”. Sedangkan tukang bentor tidak terlalu pusing dengan adanya program anti rokok. Dibuktikan dengan jawabannya yang mengatakan “biasa-biasa saja”.
Padahal, jika kita berpikir secara logis, program anti rokok memiliki dampak yang positif, yaitu berkurangnya perokok yang sangat merugikan baik diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar. Bukan menimbulkan dampak yang negatif.
                                                                            
C. Tindakan terhadap Rokok
Pada umumnya jawaban dari siswa SMP dan tukang bentor memiliki kesamaan dalam hal perasaan yang timbul ketika sedang merokok. Umumnya mereka mengatakan jika merokok, yang mereka rasakan yaitu enak dan tenang.
Tidak dapat dielakkan bahwa merokok memberi faedah kepada penghisap dimana rokok dapat memberi ketenangan tertentu kepada penghisap untuk jangka waktu tertentu. Ketenangan ini dirasakan sendiri oleh mereka yang merokok.
Dalam hal tindakan yang dilakukan jika ada orang yang merokok disamping mereka, kami menemukan jawaban yang berbeda. Siswa SMP yang merokok mengatan jika ada orang disamping yang merokok, mereka akan meminta. Sedangkan siswa SMP yang tidak merokok mengajakan jika ada orang yang merokok disampingnya maka dia akan pergi dan menjauh. Lain halnya dengan jawaban dari tukang bentor yang mengatakan jika disampingnya ada orang yang merokok, maka yang dia lakukan adalah menutup hidungnya dengan menggunakan baju kaosnya. Hal in membuktikan bahwa sebenarnya merokok orang yang merokok itu dapat merugikan tidak hanya dirinya sendiri, tapi orang lain dan juga lingkungan sekitar.

D. Upaya Pencegahan
Agen sosialisasi dalam perilaku merokok adalah keluarga dan lingkungan teman sebaya. Sementara itu, perilaku merokok lebih berkaitan dengan aspek emosional. Beberapa saran yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah seseorang berperilaku merokok, antara lain:
a.    Bagi orang tua yang menginginkan anaknya tidak merokok maka anggota keluarga tidak disarankan merokok atau tidak memberikan pengukuh positif ketika remaja merokok.
b.    Teman sebaya memberikan kontribusi yang cukup besar kepada remaja untuk merokok, dalam hal ini jika orang tua tidak menginginkan anaknya merokok, maka orang tua perlu waspada terhadap kelompok teman sebaya anak-anaknya.
c.    Perilaku merokok lebih didasarkan atas pertimbangan emosional. Berkaitan dengan masalah tersebut, upaya preventif maupun kuratif. Sebaiknya tidak menggunakan pendekatan kognitif seperti pemberian informasi bahaya-bahaya atau dampak negatif merokok, tetapi sentuhan-sentuhan afeksional perlu dilakukan.
Selain itu, ada juga beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, antara lain:
  1. Upaya yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan bu-kan suatu kampanye anti merokok, tetapi penyuluhan tentang hubungan rokok dengan kesehatan.
  2. Sasaran yang ingin dijangkau adalah sasaran-sasaran ter-batas yaitu : petugas kesehatan, para pendidik, para murid sekolah, para pemuka, anak dan remaja, para wanita, terutama ibu hamil.
  3. Kegiatan diutamakan pada pencegahan bagi yang belum merokok.
  4. Menanamkan pengertian tentang etika merokok, misalnya:
  • Tidak merokok di tempat-tempat umum, seperti gedung bioskop, bis kota, gedung-gedung pertemuan dan sebagainya
  • Tidak merokok waktu sedang melaksanakan tugas, mi-salnya dokter waktu memeriksa pasien, guru waktu mengajar dan sebagainya.
  • Tidak merokok dekat anak-anak/bayi.
Bagi yang belum pernah merokok, sebaiknya jangan mencoba-coba merokok karena dapat membahayakan hidup kita. Terlebih lagi di zaman yang sudah tidak sehat ini, kita harus pandai-pandai menjaga kesehatan. Biasakan untuk hidup sehat, karena hidup sehat merupakan awal dari sebuah keberhasilan.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari. Proses belajar dimulai dari sejak masa anak-anak, sedangkan proses menjadi perokok pada masa remaja. Proses belajar atau sosialisasi tampaknya dapat dilakukan melalui transmisi dari generasi sebelumnya yaitu transmisi vertikal (dari lingkungan keluarga, lebih spesifik sikap permisif orang tua terhadap  perilaku merokok remaja) dan transmisi horizontal (melalui lingkungan teman sebaya). Namun demikian, yang paling besar memberikan kontribusi adalah kepuasan-kepuasan yang diperoleh setelah merokok (rokok memberikan kontribusi yang positif). Pertimbangan-pertimbangan emosional lebih dominan dibandingkan pertimbangan-pertimbangan rasional bagi perokok.
Dari hasil wawancara yang kami lakukan terhadap beberapa pelajar SMP dan salah seorang tukang bentor, kami dapat menyimpulkan bahwa sangat kurangnya pengetahuan mereka tentang rokok itu sendiri. Dibuktikan dengan tidak tahunya mereka tentang bahaya dari merokok, dan kandungan dari rokok itu sendiri.

B. Saran
Diharapkan dengan adanya informasi ini kita dapat lebih mengetahui tentang pengaruh dan dampak ataupun akibat dari rokok itu sendiri walaupun para penggunanya tidak merasakan efek dari rokok yang dikonsumsi setiap hari.




DAFTAR PUSTAKA

6.    http://fisip.uns.ac.id/blog/jeje/2011/03/28/perilaku-merokok-pada-remaja/
7.  http://rahmandtb.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini