Rabu, 30 Juli 2014

MASALAH KURANG GIZI DI KABUPATEN MERAUKE PROPINSI PAPUA



MASALAH KURANG GIZI DI KABUPATEN MERAUKE PROPINSI PAPUA


O
L
E
H

BAITUR  RAMAN MERJA
(141 2011 0334)
L_2



FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
            Puji dan syukur kami panjatkan  kehadirat Allah SWT  karena atas berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelasaikan  makalah ini. Tak lupa Shalawat serta Salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah diutus kemuka bumi ini sebagai Rahmatanlil Alamin.
            Makalah ini disusun untuk mengetahui Masalah Kurang Gizi di Kabupaten Merauke Provinsi Papua. Dimana dalam makalah ini diharapkan lebih membuka wawasan berpikir dibidang terkait dengannya.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
            Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semua dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Wallahu Waliyyut Taufiq Wal - Hidayah
           

                                                                                        Makassar, April 201

                                                                                                           
                                                                                                 Penyusun











DAFTAR ISI

Halaman Sampul ………………………………………………………...
Kata Pengantar ………………………………………………………..…
Daftar isi ………………………………………………………………..…
BAB I Pendahuluan
A.   Latar Belakang ……………………………………………...……
B.   Rumusan Masalah ……………………………………….………
C.   Tujuan ……………………………………………………..………
BABII PEMBAHASAN
A.   Definisi Kurang Gizi ………………..………………….…………
B.   Klasifikasi Penyakit Kurang Gizi ……...……………..…………
C.   Faktor-faktor yang menyebabkan kurang Gizi …..……………
D.   Dampak dari Kekurangan Gizi ………………………………….
E.   Penyakit Akibat Kekurangan Protein …………..………………
F.    Masalah Kurang Gizi di Kabupaten Merauke Provinsi Papua
BAB III Penutup
A.   Kesimpulan …………………………………………………….…
B.   Saran ………………………………………………………………
Daftar pustaka ……………………………………………………………
1
2
3

4
5
5

6
7
8
9
11
15

19
19
20







BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Masalah kurang gizi memang sudah banyak terjadi di beberapa Negara berkembang termasuk di Indonesia. Melihat sumber dana yang terbatas yang tersedia pada Negara-negara berkembang dan menumpuknya kebutuhan yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan. Masalah kurang gizi juga telah dinyatakan sebagai masalah utama kesehatan dunia dan berkaitan dengan lebih banyak kematian dan penyakit yang disebabkan oleh masalah kurang gizi tersebut.walaupun. telah banyak dilakukan penyuluhan tentang masalah kurang gizi namun masih banyak masyarakat yang mengalami masalah masalah gizi.
Menurut Alan Berg, 1986. Gizi yang kurang mengakibatkan terpengaruhnya perkembangan mental, perkembangan jasmani, dan produktifitas manusia karena semua itu mempengaruhi potensi ekonomi manusia. Keadaan gizi dapat dikelompokkan menjadi tiga tingkat, yaitu keadaan gizi lebih, keadaan gizi baik, dan keadaan gizi kurang. Keadaan gizi lebih terjadi apabila gizi yang dibutuhkan melebihi standart kebutuhan gizi. Gizi baik akan dicapai dengan memberi makanan yang seimbang dengan tubuh menurut kebutuhan. Sedang gizi kurang menggambarkan kurangnya makanan yang dibutuhkan untuk memenuhi standar gizi.
Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan atau sering disebut status gizi. Apabila tubuh berada dalam tingkat kesehatan gizi optimum dimana jaringan jenuh oleh semua zat gizi maka disebut status gizi optimum. Dalam kondisi demikian tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setinggi-tingginya.
Penyakit kurang gizi kebanyakan ditemui pada masyarakat golongan rentan terutama pada anak-anak yaitu golongan yang mudah sekali mengalami penyakit akibat kekurangan gizi dan kekurangan zat makanan (deficiency) misalnya kwarsiorkor, busung lapar, marasmus, beri-beri, dll. Dan penyakit gizi berlebih yang disebabkan karena kelebihan makanan. Contonya obesitas, kelebihan berat badan (over weigh), diabetes militus, dll.
Kedudukan gizi seseorang atau golongan pendudukj , ialah suatu tingkat kesehatan yang merupakan akibat dari intake dan penggunaan semua nutrient yang terdapat dalam makanan sehari-hari. Maka kasus inilah yang menyebabkan kasus utama kematian di massa kanak-kanak. Dan dalam masyarakat industri merupakan sindrom malabsorbsi dan gangguan fungsi ginjal yang menahun.

B.   Rumusan Masalah
1.    Defenisi kekurangan gizi
2.    Apa saja klasifikasi penyakit kurang gizi
3.    Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan penyakit kurang gizi
4.    Apa saja jenis penyakit yang disebabkan karena kurang gizi
5.    Masalah Kurang Gizi di Kabupaten Merauke Propinsi Papua

C.   Tujuan
1.    Agar dapat mengetahui defenisi kekurangan gizi
2.    Agar dapat mengetahui klasifikasi kurang gizi
3.    Agar dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kurang gizi
4.    Agar dapat mengetahui jenis penyakit yang disebabkan karena kurang gizi
5.    Agar dapat mengetahui Masalah Kurang Gizi di Kabupaten Merauke Propinsi Papua
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Defenisi Kekurangan Gizi
Kekurangan gizi (Malnutrisi) merupakan penyebab kematian dan kesakitan pada anak-anak. Kekurangan gizi bisa disebabkan oleh  kurangnya asupan gizi atau ketidakmampuan tubuh untuk menyerap atau memetabolizer zat gizi.
Kekurangan gizi bisa terjadi ketika kebutuhan akan zat-zat gizi yang penting meningkat, misalnya pada saat mengalami setres, infeksi, cedera atau penyakit.
Kekurangan kalori protein (KKP) merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi yang paling serius. KKP terjadi pada bayi akbat tidak adekuatnya masa menyusui ataupun masa menyapih. KKP relative sering ditemukan dinegara-negara berkembang, Negara maju, bentuk KKP yang lebih ringan ditemukan pada keluarga miskin.
Sebagai bagian dari keperawatan anak rutin, dokter akan menanyakan kepada orang tua maupun anak mengenai makanan dan intoleransi terhadap makanan serta memeriksa anak untuk mencari tanda-tanda dari kekurangan gizi atau kelainan yang mempengaruhi keadaan gizi (misalnya malabsorbsi, penyakit ginjal, diare, kelainan metabolic, kelainan genetic).
Pertumbuhan anak dinilai memalui pengukuran tinggi badan, berat badan dan membandingkannya dengan grafik pertumuhan yang normal. Jika diduga terjadi malnutrisi, untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan darah atau air kemih guna mengukur kadar zat gizi.



B.   Klasifikasi Penyakit Kurang Gizi
Penyakit-penyakit kekurangan gizi yang paling rentan adalah kelompok bayi dan anak balita. Oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita (bayi dan anak balita). Selama ini telah banyak dihasilkan berbagai pengukuran status gizi tersebut dan masing-masing ahli mempunyai argumentasi sendiri dalam mengembangkan pengukuran tersebut. (Anonymous,2008)
Berdasarkan data statistik kesehatan Departemen Kesehatan RI tahun 2005 dari 241.973.879 penduduk Indonesia, enam persen atau sekira 14,5 juta orang menderita gizi buruk. Penderita gizi buruk pada umumnya anak-anak di bawah usia lima tahun (balita). Depkes juga telah melakukan pemetaan dan hasilnya menunjukkan bahwa penderita gizi kurang ditemukan di 72% kabupaten di Indonesia. Indikasinya 2-4 dari 10 balita menderita gizi kurang. Gizi buruk merupakan salah satu dari tiga tingkatan status gizi selain gizi lebih dan gizi baik.
Berdasarkan klasifikasi dari Standard Harvard menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, 2003. Yaitu standar yang dikembangkan untuk mengukur status gizi anak disesuaikan dengan kondisi anak-anak dari negara-negara Asia dan Afrika. Termasuk Indonesia, klasifikasi status gizi anak didasarkan pada 50 percentile dari 100% standar Harvard.
Dibawah ini akan diuraikan 4 macam cara pengukuran yang sering dipergunakan di bidang gizi masyarakat serta klasifikasinya :
1.  Berat Badan Per Umur
a.    Gizi baik adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umurnya lebih dari 89% standar Harvard.
b.    Gizi kurang adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umur berada diantara 60,1-80 % standar Harvard.
c.    Gizi buruk adalah apabila berat badan bayi / anak menurut umurnya 60% atau kurang dari standar Harvard.
2.  Tinggi Badan Menurut Umur
Pengukuran status gizi bayi dan anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur, juga menggunakan modifikasi standar Harvard dengan klasifikasinya adalah sebagai berikut :
a.    Gizi baik yakni apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya lebih dari 80% standar Harvard.
b.    Gizi kurang, apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya berada diantara 70,1-80 % dari standar Harvard.
c.    Gizi buruk, apabila panjang / tinggi badan bayi / anak menurut umurnya kurang dari 70% standar Harvard.
3.  Berat Badan Menurut Tinggi
Pengukuran berat badan menurut tinggi badan itu diperoleh dengan mengkombinasikan berat badan dan tinggi badan per umur menurut standar Harvard juga. Klasifikasinya adalah sebagai berikut
a.    Gizi baik, apabila berat badan bayi / anak menurut panjang / tingginya lebih dari 90% dari standar Harvard.
b.    Gizi kurang, bila berat bayi / anak menurut panjang / tingginya berada diantara 70,1-90 % dari standar Harvard.
c.    Gizi buruk apabila berat bayi / anak menurut panjang / tingginya 70% atau kurang dari standar Harvard.
4.  Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur
Klasifikasi pengukuran status gizi bayi / anak berdasarkan lingkar lengan atas yang sering dipergunakan adalah mengacu kepada standar Wolanski. Klasifikasinya sebagai berikut :
a.    Gizi baik apabila LLA bayi / anak menurut umurnya lebih dari 85% standar Wolanski.
b.    Gizi kurang apabila LLA bayi / anak menurut umurnya berada diantara 70,1-85 % standar Wolanski.
c.    Gizi buruk apabila LLA bayi / anak menurut umurnya 70% atau kurang dari standar Wolanski.

C.   Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kurang Gizi
Ada beberapa faktor penyebab yang diduga menghambat masyarakat untuk mengkonsumsi gizi. Ketiadaan bahan gizi murah merakyat dan yang paling disayangkan adalah ketidaktahuan masyarakat akan gizi dan peran pentingnya dalam kehidupan manusia.
Beberapa faktor penyebab:
  1. Tidak tersedianya makanan secara adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang-kadang bencana alam, perang maupun kebijakan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar yaitu pangan pun sering tidak bisa terpenuhi. Laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Inipun menjadi penyebab munculnya penyakit kurang gizi.
  2. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang. Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu ASI, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berakibat terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. Faktor sosial: yang dimaksud disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi pertumbuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan ”sekedarnya” atau asal kenyang padahal miskin gizi.
  3. Pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizinya buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan/ adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak. Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak-anak daging, telur, santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.

D.   Dampak Dari Kekururangan Gizi
Pengaruh kurang gizi pada tumbuh kembang anak antara lain :
1. Pada pertumbuhan anak :
a.    berat badan tidak sesuai dengan umur
b.    tinggi badan tidak sesuai dengan umur
c.    berat badan tidak sesuai dengan tinggi badan
d.    lingkar kepala dan lingkar lengan kecil
2. Pada perkembangan anak :
a.    berat, besar otak tidak bertambah, tingkah laku anak tidak normal
b.    tingkat kecerdasan menurun

Disamping itu, gizi kurang juga dapat menyebabkan beberapa penyakit, yaitu:

1.  Penyakit Kurang Kalori dan Protein (KKP)
Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi atau terjadinya defisiensi atau defisit energi dan protein. Pada umumnya Anak Balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi. Hal ini disebabkan anak Balita dalam periode transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa, sering kali tidak lagi begitu diperhatikan dan pengurusannya sering diserahkan kepada orang lain, dan belum mampu mengurus dirinya sendiri dengan baik terutama dalam hal makanan. Hal ini juga di karenakan pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein).
Penyakit ini dibagi dalam tingkat-tingkat, yakni :
a.    KKP ringan, kalau berat badan anak mencapai 84-95 % dari berat badan menurut standar Harvard.
b.    KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44-60 % dari berat badan menurut standar Harvard.
c.    KKP berat (gizi buruk), kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat adan menurut standar Harvard.
Beberapa ahli hanya membedakan antara 2 macam KKP saja, yakni KKP ringan atau gizi kurang dan KKP berat (gizi buruk) atau lebih sering disebut marasmus (kwashiorkor). Anak atau penderita marasmus ini tampak sangat kurus, berat badan kurang dari 60% dari berat badan ideal menurut umur, muka berkerut seperti orang tua, apatis terhadap sekitarnya, rambut kepala halus dan jarang berwarna kemerahan.
Penyakit KKP pada orang dewasa memberikan tanda-tanda klinis : oedema atau honger oedema (HO) atau juga disebut penyakit kurang makan, kelaparan atau busung lapar. Oedema pada penderita biasanya tampak pada daerah kaki.
Jenis KKp atau PCM di kenal dalam 3 bentuk yaitu :

a.    Kwarshiorkor
Kata “kwarshiorkor” berasal dari bahasa Ghana-Afrika yang berati “anak yang kekurangan kasih sayang ibu”. Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi.

Tanda-tanda Tanda-tanda yang sering dijumpai pada pada penderita Kwashiorkor yaitu :
                        i.    Gagal untuk menambah berat badan
                       ii.    wajah membulat dan sembap
                      iii.    Rambut pirang, kusam, dan mudah dicabut
                      iv.    Pertumbuhan linear terhenti
                       v.    Endema general (muka sembab, punggung kaki, dan per
                      vi.    yang membuncit).
                     vii.    Diare yang tidak membaik
                    viii.    Dermatitis perubahan pigmen kulit
                      ix.    Perubahan warna rambut yang menjadi kemerahan dan mudah dicabut
                       x.    Penurunan masa otot
                      xi.    Perubahan mentak seperti lathergia, iritabilitas dan apatis yang terjadi
                     xii.    Perlemakan hati, gangguan fungsi ginjal, dan anemia
                    xiii.    Pada keadaan akhir (final stage) dapat menyebabkan shok berat, coma dan berakhir dengan kematian.

Cara mengatasi kwarshiorkor
Dalam mengatasi kwashiorkor ini secara klinis adalah dengan memberikan makanan bergizi secara bertahap. Contohnya : Bila bayi menderita kwashiorkor, maka bayi tersebut diberi susu yang diencerkan. Secara bertahap keenceran susu dikurangi, sehingga suatu saat mencapai konsistensi yang normal seperti susu biasa kembali.

b.  Marasmus
Marasmus adalah berasal dari kata Yunani yang berarti kurus-kering. Sebaliknya walau asupan protein sangat kurang, tetapi si anak masih menerima asupan hidrat arang (misalnya nasi ataupun sumber energi lainnya). Marasmus disebabkan karena kurang kalori yang berlebihan, sehingga membuat cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh terpaksa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup.
Penderita marasmus yaitu penderita kwashiorkor yang mengalami kekurangan protein, namun dalam batas tertentu ia masih menerima “zat gizi sumber energi” (sumber kalori) seperti nasi, jagung, singkong, dan lain-lain. Apabila baik zat pembentuk tubuh (protein) maupun zat gizi sumber energi kedua-duanya kurang, maka gejala yang terjadi adalah timbulnya penyakit KEP lain yang disebut marasmus.
Tanda-tanda yang sering dijumpai pada pada penderita marasmus, yaitu:
                          i.    Sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit bahkan sampai berat badan dibawah waktu lahir.
                         ii.    Wajahnya seperti orang tua
                        iii.    Kulit keriput,
                        iv.    pantat kosong, paha kosong,
                         v.    tangan kurus dan iga nampak jelas.

Gejala marasmus adalah seperti gejala kurang gizi pada umumnya (seperti lemah lesu, apatis, cengeng, dan lain-lain), tetapi karena semua zat gizi dalam keadaan kekurangan, maka anak tersebut menjadi kurus-kering.

c.  Marasmus-Kwashiorkor
Gambaran dua jenis gambaran penyakit gizi yang sangat penting. Dimana ada sejumlah anak yang menunjukkan keadaan mirip dengan marasmus yang di tandai dengan adanya odema, menurunnya kadar protein (Albumin dalam darah), kulit mongering dan kusam serta otot menjadi lemah.

2.  Busung Lapar
Busung lapar atau bengkak lapar dikenal jiga dengan istilah Honger Oedeem (HO). Adalah kwarshiorkor pada orang dewasa. Busung lapar disebabkan karena kekurangan makanan, terutama protein dalam waktu yang lama secara berturut-turut. Pada busung lapar terjadi penimbunan cairan dirongga perut yang menyebabkan perut menjadi busung (oleh karenanya disebut busung lapar).
Tanda-tanda yang terjadi yaitu :
a.     Kulit menjadi kusam dan mudah terkelupas
b.    Badan kurus
c.     Rambut menjadi merah kusam dan mudah dicabut
d.    Sekitar mata bengkak dan apatis
e.     anak menjadi lebih sering menderita bermacam penyakit dan lain-lain.

Penderita busung lapar biasanya menderita penyakit penyerta. Misalnya dari 12 anak balita di Kabupaten Cirebon, tiga di antaranya menderita tuberkulosis, satu hydrocephalus (kepala besar), dan satu meningitis (radang selaput otak).

E.   Masalah Kurang Gizi di Kabupaten Merauke Papua
Hasil survei kematian ibu tahun 2001 mencatat sebanyak 64.471 bayi yang seharusnya hidup di Papua, namun hanya 51.460 bayi yang bertahan hidup. Angka kematian bayi mencapai 122 per 1000 kelahiran hidup. Dari 47.709 balita yang hidup terdapat 3.751 balita yang meninggal dengan angka kematian balita mencapai 64/1000 kelahiran hidup. Sedangkan berdasarkan hasil survey kesehatan ibu dan anak di Papua tahun 2003 yang dilakukan Unicef Papua tercatat kematian ibu dan bayi baru lahir sebanyak 1.025 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2003 menurut survey Departemen Kesehatan, angka kematian ibu di Papua tercatat kematian ibu dan bayi baru lahir sebesar 1.161 per 100.000 kelahiran hidup. Dibandingkan dengan angka nasional yakni 350 per 100.000, maka situasi kesehatan ibu dan anak di Papua masih jauh di bawah standar nasional
Rata-rata angka kematian bayi di provinsi Papua adalah sebesar pada tahun 2005 adalah sebesar 56.65 per seribu kelahiran. Angka kematian bayi terbesar ada di Kabupaten Merauke yang mencapai 87.55 per seribu kelahiran.
Kabupaten Merauke, yang merupakan salah satu wilayah kerja World Vi­sion Indonesia dan mitranya Wahana Visi Indone­sia, merupakan salah satu kabupaten di Indonesia dengan tingkat permasalahan gizi pada balita yang cukup signifikan, antara lain: 26.4% pendek, 22% mempunyai berat badan kurang dan 14.8% kurus.
Berdasarkan Penelitian “Survai dasar gizi dan kesehatan di wilayah kerja World vision indonesia dan wahana visi indonesia Di kabupaten merauke” maret 2012, diperoleh hasil sebagai berikut
1.  Status Gizi Balita
Masalah kekurangan gizi pada balita, baik akut ataupun kronis yang terjadi di area survai menunjukkan masalah kesehatan masyarakat yang tergolong medium.
Proporsi dari tiga masalah kekurangan gizi didaerah penelitian, lebih rendah dan berada diluar selang kepercayaan (con­fidence interval) dari hasil RISKESDAS 2008, dimana ditemukan proporsi anak yang pendek, kurus dan berat badan kurang masing-masing 26.4%, 14.8% dan 22% (Depkes 2008). Perbedaan ini terjadi dimung­kinkan karena adanya perbedaan daerah sampling dan jumlah sampel. Pada penelitian ini, daerah yang dipilih adalah wilayah area dampingan WVI yang le­taknya lebih banyak di area perkotaan.
Pada usia sangat dini (0-5 bulan), prevalensi kekurangan gizi relatif rendah. Selama periode makanan pendamping ASI (6-11 bulan), prevalensi gizi buruk akut, yang diindikasikan oleh prevalensi balita kurus, meningkat sangat tajam sampai pada tingkat tinggi. Selanjutnya, pada usia 12-23 bulan, prevalensi kekurangan gizi kronis, seperti ditunjuk­kan oleh prevalensi balita pendek, mulai meningkat dari tingkat rendah ke tingkat menengah disertai penurunan prevalensi balita kurus. Karena sifatnya yang kronis, peningkatan prevalensi balita pendek cenderung stabil pada tingkat menengah, sementa­ra prevalensi balita kurus berfluktuasi secara signifi­kan dalam kurun waktu lima tahun pertama.

2.  Pengetahuan Gizi dan Kesehatan Ibu Balita
Secara umum (> 40%), pengetahuan ibu balita tergolong masih kurang (Gambar 6). Tingkat pengetahuan ibu dalam hal ASI dan MPASI, makanan sum­ber zat besi dan vitamin A, pemantauan pertum­buhan, program vitamin A, perawatan diare dan imunisasi tergolong masih memprihatinkan.
BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Rata-rata angka kematian bayi di provinsi Papua adalah sebesar pada tahun 2005 adalah sebesar 56.65 per seribu kelahiran. Angka kematian bayi terbesar ada di Kabupaten Merauke yang mencapai 87.55 per seribu kelahiran.
Kabupaten Merauke, yang merupakan salah satu wilayah kerja World Vi­sion Indonesia dan mitranya Wahana Visi Indone­sia, merupakan salah satu kabupaten di Indonesia dengan tingkat permasalahan gizi pada balita yang cukup signifikan, antara lain: 26.4% pendek, 22% mempunyai berat badan kurang dan 14.8% kurus.

B.  Saran
Peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan makanan yang bergizi dan mengajarkan anak untuk mengonsumsi atau memilih makanan yang bergizi. Pendekatan yang baik dengan anak dan komunikasi atau cara penyampain pendidikan dasar mengenai makanan yang bergizi dapat membuat anak lebih berhati-hati dalam memilih makanan atau jajanan. Perhatian dari kedua orang tua sangat diperlukan terutama pada jajanan dan makanan kesukaannya. Makanan yang diberikan saat dirumah hendaknya memperhatikan nilai gizi dengan menyesuaikan kondisi social ekonomi keluarga.






DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Gizi dan Pangan tentang SURVAI DASAR GIZI DAN KESEHATAN DI WILAYAH KERJA WORLD VISION INDONESIA DAN WAHANA VISI INDONESIA DI KABUPATEN MERAUKE,   tahun 2012



http://www.batukar.info/wiki/kesehatan-papua  (diakses tanggal 23 Maret 2013)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini