Sabtu, 02 Februari 2013

Sang Juara

            Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba balap mobil mainan. Suasananya sungguh meriah siang itu. Sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4
orang sekarang. Dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.
            Ada seorang anak bernama Mark, mobilnya tak istimewa. Namun, ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Disbanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyangsikkan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya….
            Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya. Tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua. Sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri…..
            Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap digaris start, ntuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Disetiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya….
            Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia dampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata “Ya, aku siap.”….
            Dor, tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “ayo, ayo,, cepat,,,, cepat,,, maju-maju,,  begitu teriak mereka. Ahhaaa… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Teima kasih”…
            Saat pembagian piala tiba, Mark maju kedepan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitian bertanya, “Hai jagoan, kamu tadi pasti berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan…??”  Mark terdiam, “bukan pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Mark….
            Ia lalu melanjutkan. “sepertinya tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. “Aku hanya bermohon kepada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.” Semua terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan….

Renungan
            Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan disbanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak bermohon kepada Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta kepada Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark bermohon kepada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga…
            Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta kepada Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa kepada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan setiap cobaan yang ada didepan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya…..?????
            Kita, sering terlalu lemah untuk percaya baha kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui…??  Saya yakin,, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang Shaleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini