Sabtu, 26 Januari 2013

Cerita Menarik Tentang Garam dan Telaga



            Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak
masalah. Langkahnya yang gotai dan air mukanya yang ruwet. Tamu itu, tampak seperti orang yang sedang tidak bahagia.
            Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segengggam garam, dan meminta tamunya mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakana bagaimana rasanya”,… ujar pak tua itu.
            “pahit, pahit sekali” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
            Pak tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ketepi telaga didalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Dan akhirnya, sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
            Pak tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-ngaduk dan tercipta riak air. Mengusik ketenangan telaga itu. “coba ambil air dari telaga ini dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, pak tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya ?”
            “Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam didalam air itu ?” Tanya pak tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.
            Dengan baik, pak tua itu menepuk –nepuk punggung anak muda itu. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan. Bersimpuh dibalik telaga itu. “anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
            Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan, dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bias kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.
            Pak tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu, kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.
            Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan pak tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam” untuk anak muda yang lain. Yang sering dating kepadanya membawa keresahan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini