Sabtu, 10 Desember 2011

Kehidupan didunia bagaikan perjalanan Bus





Kehidupan kita bagaikan sebuah bus yang sedang berjalan dengan kecepatan tinggi dan tidak akan berhenti sampai tujuan terakhirnya. Dimana waktu kita juga berjalan dengan terus menerus  dan tak pernah berhenti sampai kita tiba ditujuan kita yang sesungguhnya Akhirat.
Sebuah bus dihitung dengan stasiun satu, dua, tiga, empat dan seterusnya dan jarak stasiun itu ada yang dekat, jauh, lumayan jauh dan ada juga yang jauh sekali. Sedangkan kehidupan manusia dihitung dengan jarak detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan yang paling jauh adalah abad.
 Dalam perjalanan, bus tidak selalu lurus. Ada belokan, tanjakan, jalan licin, berbatu dan ada juga jurang-jurang yang dalam. Begitu juga kehidupan kita didunia ini yang tidak selalu mulus. Ada saja masalah (cobaan) yang diberikan oleh ALLAH AWT kepada kita seperti sakit, sedih, susah, senang dll. Itulah liku-liku kehidupan kita.
 Sebuah bus tidak akan jalan terus dan menurunkan semua penumpangnya ditujuan akhirnya karena ada saja panumpang yang ingin turun ditengah jalan. Begitu juga kehidupan kita didunia. Tidak semua manusia akan hidup sampai hari akhir nanti. Ada saja manusia yang dipanggil duluan oleh Allah SWT sebagaimana penumpang-penumpang yang turun ditengah jalan tersebut.
Setelah penumpang tersebut turun, bus akan melanjutkan perjalanan hingga sampai ditujuan akhirnya. Begitu juga kehidupan kita, setelah ada seseorang atau keluarga kita yang dipanggil Allah SWT duluan, kehidupan kita tidak berhenti sampai disitu tapi kehidupan akan berjalan terus sampai tujuan akhir (Alhirat).
Dalam perjalanan kita harus sabar menunggu sampai pada tujuan. Jika kita mengikuti aturan-aturan yang ada maka Insya Alllah kita akan sampai tempat tujuan dengan selamat dan merasa bahagia karena dapat bertemu dengan keluarga. tetapi bila kita melanggar dari aturan-aturan tersebut maka belum tentu kita akan sampai dengan selamat. Bisa saja kita sampai tapi tidak mendapat kebahagiaan. Tetapi kesedihan dan penyesalan. Begitu juga dalam kehidupan kita. Kita harus selalu beribadah dengan menjalankan perintah-perintah ALLAH SWT agar kita mendapatkan kebahagiaan (Syurga). Tetapi jika kita ingkar maka kita sendiri yang akan menanggung akibatnya nanti diakhirat (Neraka).
Dari cerita itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebagai makhluk ciptaan ALLAH SWT, kita sendiri yang akan menentukan kehidupan kita di Akhirat nanti. Jika kita menjalankan semua perintah-NYA maka Syurga menanti kita disana. Tetapi jika kita ingkar, maka penyesalan dan siksaan yang akan kita dapatkan disana.­

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini